Sistem Kalender Jawa dan Pasaran: Cara Kerja Penanggalan Tradisional

β€’
jawapasaranwetonbudaya
Sistem Kalender Jawa dan Pasaran: Cara Kerja Penanggalan Tradisional
Sumber: Tradisi Budaya Jawa β†’ Lihat Sumber

title: "Sistem Kalender Jawa dan Pasaran: Cara Kerja Penanggalan Tradisional" description: "Mengenal kalender Jawa: siklus pasaran 5 hari, weton, wuku, dan neptu yang masih dipakai untuk tradisi dan penentuan hari baik." date: 2026-08-11 author: "Tim Kalender Edukasi" tags: ["jawa", "pasaran", "weton", "budaya"] slug: sistem-kalender-jawa-dan-pasaran image: "sistem-kalender-jawa-dan-pasaran" source: "Tradisi Budaya Jawa" sourceUrl: "https://jogjakota.go.id/budaya"

Artikel Terkait


Kalender Jawa adalah sistem penanggalan yang telah digunakan masyarakat Jawa selama berabad-abad. Keunikannya terletak pada perpaduan sistem penanggalan dan hadirnya pasaran β€” siklus lima hari yang tidak ada di kalender Masehi atau Hijriah.

Ringkasan

  • Kalender Jawa memadukan sistem lunar, solar, dan penanggalan Saka.
  • Pasaran = siklus 5 hari (Legi–Pahing–Pon–Wage–Kliwon); weton = hari + pasaran.
  • Kombinasi hari dan pasaran berulang setiap 35 hari (selapan).
  • Wuku: 30 periode Γ— 7 hari = 210 hari dalam siklus pawukon.

Dasar Kalender Jawa

Kalender Jawa menggabungkan:

  • Sistem lunar (berbasis bulan) untuk penanggalan, mengikuti peredaran Bulan seperti kalender Hijriah.
  • Sistem solar (berbasis matahari) pada beberapa aspek seperti pranata mangsa (musim).
  • Penanda waktu Saka dengan tahun Jawa yang berbeda dari tahun Masehi.

Apa Itu Pasaran

Pasaran adalah siklus lima hari yang berjalan terus-menerus, tidak berhenti saat bulan berganti. Kelima pasaran tersebut adalah:

  1. Legi (Manis)
  2. Pahing (Pahit)
  3. Pon
  4. Wage
  5. Kliwon (Kasih)

Karena ada 7 hari dalam sepekan (Minggu–Sabtu) dan 5 pasaran, kombinasi keduanya membentuk siklus 35 hari yang disebut selapan.

Weton: Gabungan Hari dan Pasaran

Weton adalah nama gabungan hari dan pasaran pada suatu tanggal, misalnya Senin Legi, Rabu Kliwon, atau Jumat Pahing. Weton inilah yang paling sering dicari orang Jawa untuk:

  • Menentukan hari baik acara (pernikahan, pindah rumah, hajatan).
  • Menghitung neptu (nilai numerik hari + pasaran).
  • Melihat watak atau sifat berdasarkan weton kelahiran.

Wuku dan Pawukon

Selain pasaran, kalender Jawa juga mengenal wuku β€” sistem 30 wuku dalam satu siklus pawukon yang masing-masing berlangsung 7 hari (total 210 hari). Setiap wuku memiliki karakter dan dipercaya memengaruhi peristiwa pada periode tersebut.

Asal-Usul dan Sejarah Kalender Jawa

Kalender Jawa memiliki sejarah panjang yang berakar dari kerajaan-kerajaan Nusantara. Sistem penanggalan ini diyakini sudah digunakan sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8 hingga ke-10 Masehi), jauh sebelum masuknya agama Islam ke Nusantara.

Pada awalnya, kalender Jawa hanya terdiri dari hitungan hari dan pasaran tanpa nama-nama bulan seperti yang kita kenal sekarang. Nama-nama bulan Jawa seperti Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan seterusnya baru ditambahkan setelah pengaruh Islam masuk ke Jawa pada abad ke-15.

Perkembangan kalender Jawa mengalami beberapa tahap penting:

  1. Zaman Hindu-Buddha β€” Hanya ada hitungan hari (7 hari) dan pasaran (5 hari). Tahun dihitung berdasarkan sistem Saka (mulai 78 Masehi).

  2. Zaman Islam (abad ke-15) β€” Penambahan nama bulan berdasarkan kalender Hijriah. Mulai dikenal istilah tahun Jawa (Jimakir, Alif, dan seterusnya).

  3. Zaman Kolonial Belanda β€” Dokumentasi dan standardisasi sistem kalender Jawa oleh para sarjana Eropa.

  4. Masa Kini β€” Kalender Jawa tetap digunakan untuk tradisi, ritual keagamaan, dan penentuan hari baik.

Neptu: Nilai numerik Hari dan Pasaran

Neptu adalah nilai numerik yang diberikan kepada setiap hari dan pasaran dalam kalender Jawa. Nilai ini digunakan untuk menghitung weton dan menentukan hari baik:

Neptu Hari

Hari Neptu
Minggu 5
Senin 4
Selasa 3
Rabu 7
Kamis 8
Jumat 6
Sabtu 9

Neptu Pasaran

Pasaran Neptu
Legi 5
Pahing 9
Pon 7
Wage 4
Kliwon 8

Contoh perhitungan: Rabu Kliwon = Neptu Rabu (7) + Neptu Kliwon (8) = 15

Neptu digunakan dalam berbagai tradisi Jawa, seperti:

  • Menentukan hari baik pernikahan β€” Jumlah neptu kedua mempelai harus genap
  • Hitungan selapan β€” 35 hari dari weton kelahiran untuk acara syukuran
  • Pranata Mangsa β€” Penentuan musim berdasarkan perhitungan neptu

Pranata Mangsa: Musim dalam Kalender Jawa

Selain hari dan pasaran, kalender Jawa juga mengenal pranata mangsa β€” sistem penentuan musim yang terdiri dari 12 mangsa dengan durasi berbeda-beda. Pranata Mangsa tidak didasarkan pada fase Bulan, melainkan pada posisi Matahari di langit (sistem solar).

Berikut 12 Pranata Mangsa beserta durasinya:

No Mangsa Durasi Keterangan
1 Kaso 41 hari Musim kemarau awal
2 Karo 23 hari Musim kemarau
3 Katiga 27 hari Musim kemarau puncak
4 Kapat 27 hari Musim pancaroba
5 Kalima 26 hari Musim hujan awal
6 Kenam 26 hari Musim hujan
7 Kapitu 25 hari Musim hujan puncak
8 Kawolu 25 hari Musim hujan
9 Kasanga 24 hari Musim hujan akhir
10 Kasadasa 23 hari Musim kemarau awal
11 Dhesta 23 hari Musim kemarau
12 Sinta 21 hari Musim kemarau puncak

Pranata Mangsa masih digunakan oleh petani tradisional Jawa untuk menentukan waktu yang tepat untuk menanam dan memanen tanaman.

Cek Weton Tanggal Anda

Ingin tahu weton, pasaran, neptu, atau wuku dari tanggal lahir Anda? Gunakan fitur Cek Weton di Kalender Edukasi. Cukup masukkan tanggal, dan sistem akan menampilkan lengkap:

  • Hari & pasaran
  • Weton
  • Neptu hari dan pasaran
  • Wuku
  • Pranata Mangsa

Kalender Jawa tetap hidup sampai sekarang β€” bukan sekadar peninggalan, tapi bagian dari cara masyarakat Jawa memahami waktu dan menentukan langkah hidup. Dengan memahami sistem kalender Jawa, kita bisa lebih menghargai kearifan lokal yang telah diwariskan selama berabad-abad.